Muslimediaku - Alvin Toffler telah memprediksi bahwa manusia dibagi menjadi tiga era: agraris, industri, dan informasi. Era informasi yang terjadi sekarang ini ditandai dengan melekatnya teknologi informasi dalam kehidupan dan ketersediaan jumlah informasi yang ada di masyarakat. Ciri era informasi yang lain adalah informasi menjadi komoditi, distribusi berubah dari cetak menjadi elektronik, sistem layanan dari manual menjadi elektronik, kompetisi bersifat global dan ketat, sektor ekonomi bergeser dari penghasil barang menjadi pelayan jasa.
![]() |
| Sumber: Duta.co |
Mendukung pernyataan tersebut, Everet M. Rogers dalam bukunya “Communication Technology” mengemukakan empat era evolusi komunikasi manusia. Empat era evolusi komunikasi manusia tersebut adalah: (1) era komunikasi tulisan (the writting era of communication); (2) era percetakan (the printing era of communication); (3) era telekomunikasi (telecommunication era); (4) era komunikasi interaktif (interactive communication era).
Menyikapi hal tersebut, jauh sebelum berkembangnya informasi serta munculnya teori informasi, sesungguhnya al-Qur’an telah memberikan solusi tentang penerimaan informasi. Solusi yang ditawarkan al-Qur’an sebagaimana termuat dalam QS. Al-Hujurat ayat 6.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Asbabun nuzul ayat tersebut yaitu suatu ketika Rasulullah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepada Bani Mushthaliq untuk mengambil sedekah dari mereka. Ketika mendengar berita itu mereka merasa sangat gembira dan mereka keluar untuk menemui Rasulullah. Di tengah perjalanan ketika al-Walid diberi kabar bahwa mereka telah keluar menemui Rasulullah, maka al-Walid pun kembali menemui Rasulullah, dan berkata: “Wahai Rasulallah, Bani Mushthaliq menolak sedekah.” Mendengar ucapan itu Rasulullah sangat marah. Datanglah seorang utusan yang lain mengabarkan bahwa al-Walid kembali di tengah perjalanan (tidak sampai menemui Bani Mushthaliq sebagaimana instruksi Rasulullah).
Ayat tersebut merupakan bentuk seruan kepada orang-orang beriman untuk membenarkan Allah dan Rasulullah dari berita yang dibawa oleh sekelompok kaum dimana berita itu belum terang kebenarannya. Ulama berbeda pendapat tentang bacaan فتبينوا. Ulama Madinah membacanya فتثبتوا yang memiliki arti sama dengan فتبينوا yaitu perjelas secara pelan-pelan informasi tersebut sampai kamu mengetahui kebenarannya, dan jangan tergesa-tergesa menerimanya. Hal ini menunjukkan bahwa betapa al-Qur’an telah mengingatkan untuk menyaring informasi sebelum diterima dan dijadikan sebagai pegangan serta disebarluaskan. Wallahu a'lam.
Oleh: Achmad Azis Abidin, S.Th.I., M.Ag.
DAPATKAN BUKU-BUKU FIQIH PESANTREN, SEJARAH, AL-QURAN, TAFSIR DAN HADITS DI SINI

No comments:
Post a Comment