Tuesday, May 15, 2018

MEMBANGUN PERADABAN DENGAN MENULIS

Muslimediaku - Hampir semua ilmuan di dunia terkenal belakangan setelah mereka meninggal sudah berpuluh-puluh tahun. Namun karya-karyanya yang terbukukan menghidupkan namanya. Sebut saja seperti Einstein dengan black hole-nya. Pada awal kemunculannya, gagasan tentang adanya black hole sebagai lingkaran waktu dianggap sebagai sesuatu yang gila dan tidak mungkin. Namun belakangan ada yang membaca dan meneliti kembali gagasan tersebut. Dan fenomena black hole pun kembali populer hingga tidak sedikit yang meng-iya-kan keberadaannya.

sumber: www.bp.blogspot.com

Dari pengalaman Einstein tersebut ada satu esensi penting berkaitan dengan tulisan. Tulisan bukan saja bisa untuk menyampaikan berita, namun juga dapat digunakan untuk menghidupkan yang sudah mati. Anggaplah Einstein sudah tidak ada, akan tetapi ketika gagasan-gagasannya dibahas, seolah Ia hadir menyaksikannya. Meskipun tak bisa menghakimi terkait tujuan yang Ia maksud dalam gagasannya, namun seakan Ia dihidupkan kembali.

Ada hal penting yang ingin saya sampaikan mengenai urgensi tulis-menulis. Yaitu bahwa kegiatan tulis-menulis merupakan pembangunan peradaban baru. Semakin banyak karya tulis, baik ilmiah maupun fiksi dari sebuah negara, maka ada kesempatan bagi negara tersebut untuk memiliki peradaban yang besar di masa mendatang. Semua civitas akademika di seluruh dunia akan berbondong-bondong mengkaji hasil tulisan yang sudah menjadi manuskrip-manuskrip peradaban tersebut. Baik untuk dikembangkan maupun dijadikan materi sejarah baru sebagai bahan diskusi dengan berbagai perspektif.

Manuskrip yang merupakan hasil karya tulis-menulis mungkin kurang berlaku pada masanya. Namun akan menjadi bahan bernilai di masa mendatang. Bagi para antropolog, manuskrip bisa dijadikan sebagai bukti sejarah untuk mendeskripsikan karakter dan budaya masyarakat pada masa itu. Sedangkan bagi para ilmuan fisika, manuskrip dapat menjadi tolok ukur kemajuan teknologi pada masa itu. Luar biasa bukan?.

sumber: www.tribunnews.com

Jadi jangan anggap remeh hasil tulisan sederhana kita. Jika kita masih menemukan ketidakpuasan pada hasil tulisan kita, maka perbanyaklah bahan bacaan. Karena dari satu sumber bacaan akan memunculkan berbagai macam perspektif. Bayangkan jika kita sudah mempunyai 50 perbendaharaan bacaan. Berapa ratus perspektif yang bisa muncul kemudian. Dari perspektif itulah lahir berbagai pengetahuan baru, gagasan baru yang mungkin belum ada sebelumnya atau minimal pengembangan dari yang sudah ada.

Tugas kita hanya menuliskan pengetahuan baru dan gagasan tersebut. Tidak hanya muncul dalam otak dan hilang dalam benak. Tuliskan dan tuliskan. Karena hal itu akan bermanfaat untuk generasi mendatang. Indonesia butuh peradaban baru yang lebih produktif. Hal itu bisa kita mulai dari diri kita dengan menuliskan pengalaman pribadi, baik dari hasil membaca maupun mengamati. Tulislah dalam bentuk catatan harian maupun ungkapan untuk halayak dalam terbitan media. Mari menulis dan bangun peradaban kita.

Oleh: Agus Alwi Eko Arifianto



DAPATKAN BUKU-BUKU FIQIH PESANTREN, SEJARAH, AL-QURAN, TAFSIR DAN HADITS DI SINI

No comments:

Post a Comment