Muslimediaku - Hampir semua ilmuan di dunia terkenal
belakangan setelah mereka meninggal sudah berpuluh-puluh tahun. Namun
karya-karyanya yang terbukukan menghidupkan namanya. Sebut saja seperti
Einstein dengan black hole-nya. Pada awal kemunculannya, gagasan tentang
adanya black hole sebagai lingkaran waktu dianggap sebagai sesuatu yang
gila dan tidak mungkin. Namun belakangan ada yang membaca dan meneliti kembali
gagasan tersebut. Dan fenomena black hole pun kembali populer hingga tidak
sedikit yang meng-iya-kan keberadaannya.
sumber: www.bp.blogspot.com
Dari pengalaman Einstein tersebut ada
satu esensi penting berkaitan dengan tulisan. Tulisan bukan saja bisa untuk
menyampaikan berita, namun juga dapat digunakan untuk menghidupkan yang sudah
mati. Anggaplah Einstein sudah tidak ada, akan tetapi ketika gagasan-gagasannya
dibahas, seolah Ia hadir menyaksikannya. Meskipun tak bisa menghakimi terkait
tujuan yang Ia maksud dalam gagasannya, namun seakan Ia dihidupkan kembali.
Ada hal penting yang ingin saya
sampaikan mengenai urgensi tulis-menulis. Yaitu bahwa kegiatan tulis-menulis
merupakan pembangunan peradaban baru. Semakin banyak karya tulis, baik ilmiah
maupun fiksi dari sebuah negara, maka ada kesempatan bagi negara tersebut untuk
memiliki peradaban yang besar di masa mendatang. Semua civitas akademika di
seluruh dunia akan berbondong-bondong mengkaji hasil tulisan yang sudah menjadi
manuskrip-manuskrip peradaban tersebut. Baik untuk dikembangkan maupun
dijadikan materi sejarah baru sebagai bahan diskusi dengan berbagai perspektif.
Manuskrip yang merupakan hasil karya
tulis-menulis mungkin kurang berlaku pada masanya. Namun akan menjadi bahan
bernilai di masa mendatang. Bagi para antropolog, manuskrip bisa dijadikan
sebagai bukti sejarah untuk mendeskripsikan karakter dan budaya masyarakat pada
masa itu. Sedangkan bagi para ilmuan fisika, manuskrip dapat menjadi tolok ukur
kemajuan teknologi pada masa itu. Luar biasa bukan?.
sumber: www.tribunnews.com
Jadi jangan anggap remeh hasil tulisan
sederhana kita. Jika kita masih menemukan ketidakpuasan pada hasil tulisan
kita, maka perbanyaklah bahan bacaan. Karena dari satu sumber bacaan akan
memunculkan berbagai macam perspektif. Bayangkan jika kita sudah mempunyai 50
perbendaharaan bacaan. Berapa ratus perspektif yang bisa muncul kemudian. Dari
perspektif itulah lahir berbagai pengetahuan baru, gagasan baru yang mungkin
belum ada sebelumnya atau minimal pengembangan dari yang sudah ada.
Tugas kita hanya menuliskan pengetahuan
baru dan gagasan tersebut. Tidak hanya muncul dalam otak dan hilang dalam benak.
Tuliskan dan tuliskan. Karena hal itu akan bermanfaat untuk generasi mendatang.
Indonesia butuh peradaban baru yang lebih produktif. Hal itu bisa kita mulai
dari diri kita dengan menuliskan pengalaman pribadi, baik dari hasil membaca
maupun mengamati. Tulislah dalam bentuk catatan harian maupun ungkapan untuk
halayak dalam terbitan media. Mari menulis dan bangun peradaban kita.
Oleh: Agus Alwi Eko Arifianto
DAPATKAN BUKU-BUKU FIQIH PESANTREN, SEJARAH, AL-QURAN, TAFSIR DAN HADITS DI SINI

No comments:
Post a Comment